Peran Hormon Prolaktin dalam Risiko Kanker Payudara Pasca-Menopause Dikonfirmasi
Penelitian mengkonfirmasi peran prolaktin sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita pasca-menopause. Meningkatnya prolaktin plasma, terutama pada pengguna terapi hormon, meningkatkan risiko kanker. Dengan sampel 8.279 wanita, studi ini dapat lebih akurat dalam identifikasi risiko.
Penelitian terbaru mengonfirmasi peran prolaktin, hormon yang mengatur perkembangan payudara, sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita pasca-menopause. Peneliti menemukan bahwa kadar prolaktin yang lebih tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara, terutama pada wanita yang menjalani terapi hormon pasca-menopause. Studi ini melibatkan 8.279 wanita pasca-menopause yang sehat, dengan 3.441 di antaranya didiagnosis dengan kanker payudara invasif.
Dalam studi ini, kadar prolaktin plasma yang lebih tinggi (lebih dari 13.15 ng/mL) dikaitkan dengan risiko kanker payudara yang sekitar 20% lebih tinggi, sementara kadar di bawah 7.91 ng/mL tidak meningkatkan risiko. Penelitian ini berhasil mencakup dua kali jumlah wanita pasca-menopause dibandingkan penelitian sebelumnya, membuat temuan lebih dapat diandalkan.
Studi ini juga mengeksplorasi interaksi antara prolaktin dan faktor lain seperti Indeks Massa Tubuh (BMI), yang menunjukkan hubungan lebih kuat pada wanita dengan BMI lebih rendah. Namun, hasilnya terbatas pada wanita pasca-menopause dengan keturunan Eropa dan satu kali pengukuran prolaktin per orang.
Peneliti menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memahami cara prolaktin berinteraksi dengan hormon lain, serta potensi penggunaannya dalam pencegahan kanker payudara. Hasil ini dapat membantu dalam mengembangkan model risiko kanker payudara yang lebih terpersonalisasi, mendukung deteksi dini dan intervensi yang lebih tepat.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa prolaktin merupakan faktor penting dalam risiko kanker payudara pada wanita pasca-menopause, terutama yang menjalani terapi hormon. Mengukur kadar prolaktin bisa menjadi alat dalam menentukan risiko kanker payudara dan membantu merancang strategi skrining yang lebih efektif. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki interaksi hormon dan dampaknya terhadap pencegahan kanker.
Sumber Asli: www.technologynetworks.com
Post Comment